Berkunjung ke Monumen Jogja Kembali : Penuh Diorama Sejarah Indonesia

Monumen Jogja Kembali

Monumen Jogja Kembali, sering disingkat Monjali, dibuat untuk memperingati Serangan Umum 1 Maret. Peristiwa bersejarah itu menjadi bukti bahwa Indonesia telah merdeka dari tangan penjajah.

Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 1985. Prosesi pembangunan dimulai saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX meletakkan batu pertama pada tanggal tersebut. Sebelumnya, diadakan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Tradisi tersebut memang biasa dilakukan ketika akan membangun gedung atau jembatan agar membawa keselamatan.

Presiden RI kedua, Soeharto, meresmikan monumen setinggi 31,8 meter tersebut pada tanggal 6 Juli 1989. Pembangunan museum kebanggaan rakyat Jogja itu dikabarkan menelan dana sekitar Rp9 miliar.

Monjali yang berlokasi di Dusung Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Nganglik, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu mempunyai bentuk fisik seperti kerucut. Bentuk ini terinspirasi dari bentuk gunung. Arti simbol kerucut itu adalah kesuburan. Diharapkan, museum ini dapat melestariakn budaya nenek moyang dari jaman prasejarah.

Adapun lokasi pembangunan Monjali tidak diputuskan secara simpel. Jika dilihat dari atas, Monjali terletak segaris dengan beberapa tengara terkenal di Provinsi DIY yaitu Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Jogja, Tugu Golong Gilig Jogja, dan Gunung Merapi. Jika berada di lantai tiga Monjali, tepatnya di lokasi tiang bendera, pengunjung bisa melihat sumbu imajiner Monjali dengan jelas.

Secara umum, Monjali terdiri dari tiga lantai dengan total luas 5,6 hektare. Di lantai pertama, ada empat museum. Koleksi senjata, telepon, mesin ketik, dll. yang berhubungan dengan kemerdekaan Indonesia dipajang di sini. Ruang perpustakaan, ruang pengelola, ruang pemandu, dan ruang serbaguna juga berada di lantai pertama ini.

Kolam (jagang) mengelilingi bangunan utama. Empat jalan membagi kolam ini menuju bangunan utama.

Di lantai dua, berbagai diorama bisa disaksikan oleh pengunjung. Reka ulang adegan Serangan Umum 1 Maret bisa dilihat di dalam maupun di luar museum. Ada sekitar 40 relief tentang kemerdekaan Indonesia di sepanjang tembok bagian luar di lantai dua.

Lantai ketiga atau yang teratas berisi ruang hening. Ruang itu disebut Ruang Garbha Graha. Fungsinya untuk mengenang dan mendoakan pahlawan Nusantara. Berbentuk lingkaran, ruang ini dihiasi relief dua macam perjuangan meraih kemerdekaan di dinding-dindingnya. Dinding sebelah barat menceritakan perjuangan fisik sedangkan dinding timur menceritakan perjuangan diplomasi. Sebuah tiang bendera di tengah ruangan menambah kesan agung ruangan ini.

Di luar bangunan utama Monjali, terdapat nama 422 prajurit yang gugur tanggal 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949. Di halaman Monjali, terdapat replika pesawat Cureng yang disumbangkan oleh TNI AU.

Monjali buka untuk umum pada hari Senin Hingga Sabtu pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Lokasinya terletak sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Jogja. Diperlukan waktu sekitar 20 menit menuju Monjali dari pusat kota dengan berkendara.

top

Sewa mobil solo ke Pantai Parangtritis : Meninjau Lahan Penuh Gumuk Pasir

gumuk pasir

Pantai Parangtritis disebut-sebut sebagai pantai paling terkenal dan paling ramai di Provinsi D.I. Yogyakarta. Fenomena alam yang ada di Pantai Parangtritis hanya ada di sedikit wilayah di dunia, termasuk salah satunya di Mexico. Apa sebenarnya fenomena alam tersebut?

Fenomena alam yang dimaksud adalah gumuk pasir atau dalam bahasa Inggris disebut sand dunes. Fenomena ini biasanya ada di gurun, bukan di pantai. Adalah hal yang aneh jika gumuk pasir terbentuk di daerah beriklim tropis basah. Padahal, gurun sebagai tempat lazimnya gumuk pasir berada adalah daerah beriklim kering.

Gumuk pasir yang terbentuk di Pantai Parangtritis berasal dari material gunung Merapi. Material pasir terbawa aliran air Sungai Opak hingga Pantai Selatan. Kuatnya gelombang Laut Selatan menghempas pasir-pasir sehingga membentuk gumuk.

Kegiatan yang dapat dilakukan di gumuk pasir adalah sandboarding. Olahraga ekstrem ini telah terkenal di kalangan wisatawan Pantai Parangkusumo. Wisatawan mancanegara dan lokal sangat menikmati kegiatan ini. Sandboarding in Parangkusumo telah menjadi kegiatan sentral di salah satu dari ratusan, bahkan ribuan, pantai di selatan Jawa ini.

Gumuk Pasir Parangtritis

Warga setempat mengaku telah membagi-bagi pengelolaan wisata sandboarding di kawasan gumuk pasir Parangkusumo. Namun, kepopuleran wisata ini ternyata mendesak pengelola wisata menambah sandboards untuk disewakan. Olahraga ini diminati karena sedang ngetren di kalangan anak muda.

Per 2016, pengelola jasa sewa sandboard menarik iuran Rp75.000,00. Setelah itu, pengunjung bisa bermain sepuasnya. Bagi pemula, pengelola akan memberikan arahan singkat agar para pemula bisa turut menjajal olahraga ekstrem ini. Waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas ini adalah sore hari pukul 16.00-18.00 WIB.

Komunitas sandboarding juga turut memeriahkan gelora aktivitas olahraga ini. Komunitas ini juga turut menyumbangkan tenaganya secara rutin untuk membersihkan daerah gumuk pantai. Jadi, selain mempopulerkan olahraga ekstrem sandboard, mereka juga menjaga kelestarian lingkungan.

Lahan gumuk pasir ini sering dijadikan lokasi ideal untuk foto pranikah dan syuting video klip serta film. Tercatat ada Agnes Monica, Letto, dan Bondan & Fade2Black yang memilik gumuk pasir ini sebagai lokasi video klip. Sedangkan film Wanita Berkalung Sorban memakai tempat ini sebagai lokasi syuting salah satu adegan filmnya. Jika anda dari solo, lebih baik untuk menggunakan jasa sewa mobil solo. Anda akan lebih mudah mengunjungi tempat wisata lainnya.

top

Berkunjung ke Pecinan Semarang : Sembahyang di 1001 Kelenteng dan Mengisi Perut di Waroeng Semawis

Semawis

Kawasan Pecinan (Chinatown) lazim ditemui di berbagai negara. Rakyat Tiongkok yang sudah menyebar ke seluruh muka bumi ini memang selalu memberikan warna tersendiri di sebuah kota.

Pecinan Semarang terkenal dengan banyak kelentengnya dan acara waroeng Semawis. Dua hal ini tidak bisa ditemukan di tempat selain Kota Semarang.

Di kawasan Pecinan, ada 11 kelenteng yang memiliki sejarah panjang. Kelenteng Siu Hok Bio yang beralamatkan di Jalan Wotgandul Timur merupakan kelenteng tertua di kawasan Pecinan Semarang. Warga daerah Pecinan Lor mendirikan keleteng ini di tahun 1753. Ada ornamen nisbiah kuno berupa cincin pegangan pintu dan ukiran di ambang atas pintu kelenteng.

Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok berkedudukan sebagai kelenteng induk bagi seluruh kelenteng di Semarang. Kelenteng ini menyiratkan simbol heroisme etnis Tiongkok di Semarang.

Kawasan Pecinan Semarang memiliki kelenteng terbesar bernama Keleteng Wie Wie Kiong. Terletak di Jalan Sebandaran I, beberapa sudut keleteng terinspirasi arsitektur gaya Eropa. Sementara itu, kelenteng See Hoo Kiong yang juga berada di jalan yang sama diperuntukkan kepada pemuja Dewa Pedang.

Kelenteng Tek Hay Bio di Jalan Gang Pinggir didominasi ornamen unsur laut. “Tek Hay Bio” memang bisa diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera. Nama-nama kelenteng lainnya di Pecinan Semarang adalah Kelenteng Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, dan Grajen.

Selain banyaknya kelenteng, ada satu kegiatan di Pecinan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kegiatan itu adalah Semawis; menjual kuliner tradisional dari berbagai daerah, khususnya Jawa-China, di Gang Waroeng di Pecinan Semarang.

Semawis digagas oleh masyarakat Tionghoa di Semarang, Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis). Kegiatan berjualan kuliner ini mempunyai maksud untuk mengangkat budaya Pecinan. Selain Semawis dapat diartikan sebagai “Semarang untuk Pariwisata”, dalam bahasa Jawa, semawis juga berarti “tersedia”.

Semawis diadakan pada akhir pekan, Jumat hingga Minggu malam, mulai pukul 18.00 hingga 23.00 WIB. Menu-menu yang disajikan biasanya adalah bubur kampiun (bubur sumsum lengkap), sate, gudeg koyor khas Semarang, Nasi Campur khas Tionghoa, ayam goreng sambel mangga, nasi ayam, kwetiau, siomay, lumpia, bakmi, dan lunpia. Karena ada menu nonhalal di event mingguan kuliner ini, pengunjung Muslim disarankan untuk bertanya dahulu mengenai kehalalan menu.

top

Berkunjung ke Benteng Vredeburg : Kini Museum Benteng Yogyakarta

Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 6 Kota Yogyakarta adalah sebuah benteng yang didirikan dengan maksud tidak untuk melindungi diri dari serangan musuh tetapi justru untuk tempat membangun serangan. Pemerintah Hindia-Belanda membangun benteng ini pada tahun 1765 dengan terlebih dahulu melancarkan tipu muslihat kepada Keraton Jogja.

Saat itu, Belanda mengatakan bahwa tujuan pembangunan benteng adalah agar Belanda bisa membantu menjaga keamanan Kraton dan sekitarnya. Maka dari itu, Sri Sultan Hamengku Buwono I memperbolehkan mereka membangun benteng yang letaknya hanya satu jarak tembak meriam dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.

Di balik itu, Belanda sebenarnya mengkhawatirkan perkembangan pesat Kasultana Jogja. Padahal, Kasultanan Jogja juga lahir dari campur tangan mereka sendiri. Perjanjian Giyanti, yang menandai pecahnya Kerajaan Mataram Islam, adalah awal mula kelahiran Kasultanan Jogja dan Kasunanan Surakarta.

Benteng Vredeburg dimaksudkan sebagai tempat mengawasi perkembangan di dalam keraton. Fungsi Benteng Vredeburg ada tiga yakni sebagai benteng penyerangan, benteng intimidasi, dan blokade.

Pada masa kemerdekaan tahun 1945-1977, Benteng Vredeburg difungsikan sebagai markas militer RI oleh Tentara Indonesia. Hingga tahun 1992, Benteng Vredeburg telah banyak berjasa untuk bidang sosial politik Indonesia.

Setelah tidak digunakan lagi sebagai markas militer, Benteng Vredeburg berubah fungsi sebagai museum. Dokumentasi penjajahan Belanda disimpan di bangunan seluas sekitar 2.100 meter persegi ini.

Secara fisik bangunan, Benteng Vredeburg sudah tidak seperti saat beroperasi sebagai benteng pertahanan. Ruang pameran dibangun di bagian dalam benteng dengan cara memugar benteng. Hanya arsitektur bagian luar tetap dipertahankan seperti aslinya.

Isi museum adalah diorama-diorama berbagai peristiwa bersejarah penting di Indonesia pada masa sebelum Proklamasi, sesudah Proklamasi, dan Orde Baru. Foto, lukisan, dan benda bersejarah lainnya tentang perjuangan nasional bisa dilihat di ruang pameran.

Nama Benteng Vredeburg pun telah berubah nama menjadi Museum Benteng Yogyakarta. Nama baru tersebut dikukuhkan dengan SK Mendikbud RI Prof. Dr. Fuad Hasan No. 0475/O/1992 tanggal 23 November 1992. Akan tetapi, masyarakat masih lebih mengenalnya dengan sebutan Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Yogyakarta buka setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional. Jam buka hari Selasa hingga Jumat adalah Pkl. 08.00-16.00 WIB sedangkan Sabtu dan Minggu buka pkl. 08.00 hingga 17.00 WIB.

top

Berkunjung ke Taman Pelangi : Destinasi Wisata Malam Penuh Warna

Taman Pelangi

Taman Kota berikut ini baru menunjukkan keindahan sepenuhnya di malam hari. Adalah Taman Pelangi Yogyakarta, taman kota yang berada di Jalan Lingkar Utara Jogja, yang difokuskan sebagai destinasi wisata malam hari. Usai mengunjungi Monumen Jogja Kembali, jika hari sudah menjelang malam, sangat direkomendasikan menghabiskan waktu di sini, ditemani indahnya sorot lampu lampion yang berwarna-warni.

Sebenarnya, Taman Pelangi sudah beroperasi sejak sebelum tahun 2011. Namun, baru pada tanggal 17 Desember 2011, Taman Pelangi dibuka untuk umum. Sebelumnya, Taman Pelangi hanya digunakan untuk acara-acara tertentu yang sifatnya sementara. Usai acara, taman kota ini kembali ditutup untuk umum.

Taman Pelangi dihiasi lampion dengan berbagai macam bentuk dan warna. Penataannya juga diperhatikan dengan serius sehingga menimbulkan estetika tertentu. Saat malam hari, lampu-lampu dinyalakan sehingga akan tercipta warna pelangi dari lampion-lampion itu. Keindahan tujuh warna pelangi inilah yang dicari-cari oleh pengunjung.

Untuk masuk ke Taman Pelangi, ada dua pintu utama yang bisa dilalui. Akan tetapi, lebih nyaman rasanya untuk masuk melalui pintu timur. Sebab, pintu timur akan langsung membawa pengunjung ke dekat lampion pelangi raksasa. Di belakangnya, ada banyak lampion berjajar manis.

Lampion-lampion yang ada berbentuk flora, fauna, tokoh kartun Jepang, tokoh animasi Disney, pemimpin-pemimpin RI, replika keajaiban dunia, dan replika Tugu Jogja. Lampion tersebut ada yang digantungkan di tali, ditempelkan di dinding, dipendam dalam tanah, dan ditata berbaris.

Wahana permainan speed boat, all-terrain vehicle, bungee jumping, bom bom car, otoped, perahu dayung, trampolin, sepeda tandem, bebek kayu, becak mini, bola air, dll. bisa ditemukan juga di Taman Pelangi ini. Empat kolam di dalam kompleks Monumen Jogja Kembali juga bisa dimanfaatkan untuk wisata air. Sedangkan wahana Puri Hantu, seperti namanya, diciptakan untuk mereka yang menggemari suasana horor.

Semua wahana ini bisa disaksikan dari dekat dengan nyaman naik Kereta Safari. Agar tetap fresh, setiap beberapa bulan sekali ada musisi-musisi ibukota yang mengadakan acara konser di Taman Pelangi.

Destinasi rekomendasi foto pranikah ini memiliki fasilitas standar layaknya destinasi wisata pada umumnya. Ada lahan parkir memadai, toilet, food court, dan penginapan.

top

Berkunjung ke Taman Pintar Yogyakarta : Tujuan Wisata Edukasi Terkemuka di Jogja

Taman Pintar

Taman Pintar Yogyakarta dibangun di atas lahan bekas pusat perbelanjaan di Kota Jogja. Pembangunannya dimulai pada tahun 2004 dan selesai tahun 2008 saat diresmikan oleh Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Wahana Taman Pintar ini dibangun untuk melayani wisata edukasi anak-anak.

Taman Pintar menyediakan sarana pembelajaran sains yang dapat mendukung kurikulum pendidikan. Destinasi wisata edukatif ini ingin agar generasi muda semakin mencintai ilmu pengetahuan. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan kalangan akademisi lainnya, wahana-wahana di dalamnya bisa dinikmati semua kalangan.

Taman Pintar berlokasi di antara Gedung Agung, Taman Budaya, dan Benteng Vredeburg. Lokasi strategis ini memudahkan wisatawan untuk merancang suatu perjalanan wisata edukasi ke Jogja. Terlebih lagi, di daerah belakang Taman Pintar terdapat kawasan toko buku. Tempat-tempat umum ini menciptakan iklim akademis yang sehat bagi para pelajar dan mahasiswa.

Taman Pintar dibagi menjadi lima kategori. Masing-masing kategori diwakili oleh satu gedung. Kelima gedung disebut Gedung Oval, Gedung Kotak, Gedung Planetarium, Gedung Memorabilia, dan Gedung PAUD. Tarif dikenakan setiap pengunjung memasuki wahana di dalam gedung.

Gedung Oval berisi 10 wahana sains. Kesepuluh wahana tersebut adalah sbb.

  1. Zona Nuklir,
  2. Zona Tata Surya,
  3. Zona Cuaca, Iklim, dan Gempa,
  4. Zona Kehidupan Prasejarah,
  5. Zona Teknologi Informasi,
  6. Generator van De Graaf,
  7. Generator Pedal,
  8. Aquarium Air Tawar,
  9. Dome Area, dan
  10. Terowongan Ilusi.

Gedung Kotak berisi wahana-wahana gabungan antara sains dan teknologi berikut ini:

  1. Zona Air untuk Kebaikan Hidup,
  2. Zona Teknologi Otomotif Roda Dua,
  3. Zona Telekomunikasi,
  4. Zona Dino Adventure dan Teater 4D,
  5. Zona Standar Nasional Indonesia,
  6. Zona Microsoft,
  7. Zona Teknologi Otomotif Roda Dua,
  8. Zona Galeri Pusaka,
  9. Zona Indonesiaku,
  10. Zona Sahabat Pemberani,
  11. Zona Olahraga,
  12. Zona Tepi TV,
  13. Zona Sains,
  14. Zona Melek Gizi,
  15. Zona Sumber Daya Air,
  16. Hand of Science,
  17. Lorong Ilusi, dan

Di Gedung Planetarium, pengunjung bisa melihat benda-benda angkasa melalui proyektor digital. Proyektor tersebut mensimulasikan keadaan langit Kota Jogja ketika malam tiba. Pengunjung juga bisa menyaksikan film perjalanan manusia di Bulan.

Sementara itu, pengunjung bisa melihat foto-foto tokoh penting dan peristiwa bersejarah di Gedung Memorabilia. Semua foto disertai keterangan singkat sehingga pengunjung bisa ikut belajar sejarah. Wahana di Gedung Memorabilia dibagi menjadi tiga:

  1. Zona Sejarah Kesultanan Keraton Yogyakarta,
  2. Zona Kepustakaan Kepresidenan, dan
  3. Zona Tokoh Pendidikan.

Gedung terakhir, Gedung PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dikhususkan untuk memfasilitasi anak-anak usia 2-7 tahun. Gedung ini hanya boleh dimasuki pengunjung usia PAUD dan orang tua atau walinya. Zona PAUD dibagi menjadi dua; Zona Barat dan Zona Timur sbb.

  1. Zona PAUD Barat
    1. Wahana sains dan teknologi
    2. Wahana religi dan budaya
    3. Ruang profesi
    4. Perpustakaan
  2. Zona PAUD Timur
    1. Ruang flora dan fauna
    2. Ruang pertunjukan
    3. Ruang petualangan
    4. Computer kids and puzzle
top

Berkunjung ke Gua Kreo : Lokasi Kisah Kera dan Sunan Kalijaga

Gua Kreo

Gua Kreo adalah sebuah kawasan wisata alam di Kota Semarang. Destinasi wisata ini baru digalakkan promosinya pada tahun 2014. Terletak di tengah-tengah Waduk Jatibarang, gua yang terbentuk secara alami ini ternyata menyimpan kisah unik tentang Sunan Kalijaga dan kera gaib. Sebagai informasi, Waduk Jatibarang membendung Sungai Kreo dan berfungsi sebagai pencegah banjir dari luapan sungai.

Secara administratif, Gua Kreo berada di Keluarahan Kandiri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang. Dari pusat kota, lokasi wisata ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam.

Asal kata Kreo yang dipakai sebagai nama gua adalah “Mangreho”. Kata tersebut berarti “peliharalah”. Secara garis besar, kisah tentang Gua Kreo dimulai saat Sunan Kalijaga sedang mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Gua Kreo kemudian dijadikan petilasan oleh Sunan Kalijaga.

Saat berada di Gua Kreo, Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera gaib. Kera ekor panjang tersebut memilki warna bulu yang berbeda-beda; putih, merah, hitam, dan kuning. Warna bulu yang berbeda melambangkan kesucian (putih), keberanian (merah), tanah subur (hitam), dan angin (kuning).

Sunan Kalijaga diajak sekawanan kera itu untuk meminta petunjuk Yang Kuasa agar bisa menebang pohon untuk pondasi Masjid Agung Demak. Diketahui, sebelumnya, para sunan (Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Gunung Jati) tidak bisa menebang batang pohon untuk pondasi masjid.

Saat meminta petunjuk, Sunan Kalijaga diberikan petunjuk dari Yang Kuasa untuk menebang batang pohon dengan menggunakan selendang yang dibawanya. Saat mencoba menebang kembali sesuai petunjuk, ternyata, batang pohon berhasil ditebang. Batang dibelah menjadi dua dan dibawa ke tempat persemedian.

Kera-kera ingin ikut Sunan Kalijaga saat beliau hendak pulang ke masjid. Sunan tidak mengizinkan mereka untuk ikut. Namun, Sunan Kalijaga meminta kera-kera tersebut untuk menjaga gua. Maka dari itu, lahirlah istilah “Kreo” atau “jagalah”. Kera-kera yang dapat ditemukan di gua tersebut dianggap sebagai penunggu gua dan tidak boleh diganggu.

Sekitar 650 kera menghuni kawasan gua. Mereka terlihat tidak bertambah maupun berkurang. Warga mengaku belum pernah menemukan bangkai kera. Kawanan ini dibagi menjadi kubu atas dan kubu bawah.

Masing-masing kubu memiliki raja. Pengunjung dan warga tidak boleh menyentuh kera-kera ini karena bisa mengakibatkan raja mereka marah. Meskipun demikian, kera-kera ini sangat jinak.

Hingga kini, Gua Kreo masih sering digunakan untuk bersemedi. Setiap bulan Syawal, diadakan tradisi Sesaji Rewondo untuk menghormati kera-kera penghuni Gua Kreo. Warga membawa makanan yang khusus untuk kera. Manusia tidak boleh memakan makanan tersebut. Menurut penuturan warga, mereka yang nekat memakan sesaji untuk kera akan merasakan hal aneh pada diri mereka.

Gua Kreo berkedalaman tujuh meter. Saat memasuki gua, seringkali pengunjung merasakan hal yang ganjil, bahkan merinding. Tampaknya, kekuatan spiritual yang menyelubungi gua termasuk kuat.

Bagian atas gua biasa digunakan untuk selametan setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Meskipun cukup sulit menuju bagian atas, pemandangan indahnya tidak boleh dilewatkan. Jangan lewatkan berkunjung ke kota wisata solo. Anda bisa memakai sewa mobil solo. Solo memiliki banyak tempat wisata belanja, dan wisata budaya.

top

Berkunjung ke Alun-alun Kidul Jogja : Menjajal Ritual Masangin

Alun alun Kidul

Alun-alun Kidul (disingkat Alkid) Jogja adalah tempat masyarakat melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk acara-acara rakyat, rekreasi, jual beli, dan acara bertemu raja. Alun-alun memang biasanya dibagi menjadi dua sesuai fungsi dan letaknya. Alun-alun Lor yang terletak di sebelah utara Keraton adalah tempat berkumpulnya masyarakat berwatak ribut. Sedangkan alun-alun Kidul yang terletak di sebelah selatan Keraton dipergunakan untuk istirahat (sebagai palereman).

Alkid Jogja merupakan tempat empat aktivitas unik dilaksanakan. Selain di Jogja, belum tentu ada kegiatan seperti setonan, lomba memanah tradisional, Rampok Macan, dan Masangin.

Setonan atau acara ketangkasan berkuda biasa diadakan oleh para bangsawan dan prajurit dengan memanfaatkan luasnya tanah lapang Alkid. Sedangkan lomba memanah tradisional diadakan untuk menentukan jago-jago panahan selanjutnya. Kegiatan ini telah berlangsung dari jaman Kerajaan Mataram.

Berbeda dengan lomba panahan internasional yang dilakukan secara berdiri, jemparingan  dilakukan dengan duduk bersila. Nama jemparingan berasal dari kata jemparing yang berarti senjata panah pasukan khusus (panyutro). Pemanah harus bisa menembakkan anak panah ke sasaran 31 meter di depan pemanah sambil duduk bersila dengan posisi badan penyamping.

Lalu, ada kegiatan Rampok Macan. Kegiatan adu harimau ini terkenal pula di Kediri, Jawa Timur. Seluruh kerajaan di Jawa menyelenggarakan Rampok Macan pada masa jayanya. Populasi Harimau Jawa di tahun 1900-an menurun drastis diduga karena penyelenggaraan kegiatan ini.

Terakhir, ada Ritual Laku Masangin. Kegiatan ini berasal dari kisah sayembara raja mencari jodoh untuk putrinya. Kegiatan ‘Masuk di antara dua beringin’ ini menantang seseorang berjalan di antara ringin kurung dengan mata tertutup. Beringin kembar itu berada di tengah-tengah lapangan Alkid.

Menurut kepercayaan warga, orang yang berhasil melintasi dua beringin dengan tidak berbelok-belok akan mendapatkan keinginannya. Untuk sayembara sultan, orang yang berhasil melewati beringin itu dipercaya mempunyai hati yang bersih. Sayembara tersebut dimenangkan oleh Prabu Siliwangi yang berhasil melewati tengah-tengah ringin kurung hingga pendopo di selatan Alkid.

Pengunjung yang ingin mencoba ritual Masangin bisa menyewa penutup mata dari warga. Hal unik ini tentunya bisa menambah pengalaman para wisatawan. Berkunjung ke Alun-alun Kidul memang merupakan kegiatan yang tidak bisa begitu saja dilewatkan dari rencana perjalanan wisata ke Jogja.

top

Berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka : Bonbin Berprestasi

Gembira Loka

Kebun binatang Gembira Loka telah berdiri sejak tahun 1933. Sebelum menjadi kebun binatang untuk umum, Gembira Loka adalah kebun milik raja atau disebut Bonraja. Fungsi Bonraja adalah untuk memelihara binatang yang menjadi kelangenan raja.

Adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Jogja saat itu, yang ingin mewujudkan keinginan raja terdahulu untuk menjadikan Bonraja sebagai kebun binatang untuk umum. Sekarang ini, Gembira Loka berlokasi di Rejowinangun, Kotagede, Jogja.

Separuh dari total 20 hektare lahan Gembira Loka adalah hutan lindung. Berada di daerah aliran sungai Gajah Wong, koleksi binatang pertama-tama adalah macan tutul tangkapan warga setempat. Sekawanan macan tutul diketahui sering turun gunung jika habitatnya terkena awan panas Gunung Merapi. Kehadiran mereka mengganggu ketentraman warga sehingga perlu ditangkap.

Konferensi Komodo Dragon tahun 1998 di Thoiry, Paris, memberikan penghargaan kepada Gembira Loka atas kesuksesannya menjadi tempat penangkaran komodo dragon. Binatang endemik berjuluk ‘the world’s largest living lizard’ itu sukses ditangkarkan pada tahun 1992-1996 saat penghargaan tersebut diberikan.

Gembira Loka pernah bernasib kurang lebih sama dengan sebagian besar bonbin di Indonesia. Sebelum tahun 2006, bonbin ini berfasilitas seadanya sehingga satwa kurang terurus dan pengunjung cepat bosan. Namun, semuanya berubah ketika ada restrukturisasi manajemen. Sejak direnovasi akibat rusak parah karena gempa 2006, Gembira Loka kini salah satu bonbin terbaik di Indonesia.

Sekarang ini, Gembira Loka menghadirkan wisata edukasi menarik yang telah dihadirkan ke hadapan pengunjung sejak mulai masuk kompleks kebun binatang. Dengan konsep seperti museum, semua spesies di Gembira Loka dapat dilihat dengan jelas dan informasi yang diberikan tentang mereka detil. Mereka dikelompokkan ke dalam beberapa wahana yang disebut taman.

*) Taman Reptil dan Amfibi berisi katak, kadal, ular, iguana, biawak, kura-kura, dll, di etalase besar dengan fasilitas hidup memadai.

*) Taman Burung berisi 340 ekor burung dari berbagai spesies termasuk elang, pinguin jackas, flamingo, pelikan, dan cendrawasih.

*) Ada wahana foto bersama binatang ular, burung, iguana, yang semuanya telah jinak.

*) Atraksi Satwa Terampil menampilkan kakaktua, oranguta, berang-berang, dll. yang telah dididik untuk menghibur penonton.

Wahana lainnya:

*) Cafe Mayang Tirta : Kafe yang terletak di atas danau buatan. Acara musik sering di adakan di atas kafe ini.

*) wahana permainan dan hiburan : ATV, perahu engkol, kolam tangkap, sepeda air, dan Kapal Katamaran ‘Dugong’.

top

Berkunjung ke Sam Poo Kong : Persinggahan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah destinasi wisata reliji yang berada di Jalan Simongan, Kota Semarang. Bangunan ini sangat bercirikan gaya Tiongkok dari warna merah serta bentuknya.

Sesungguhnya, awal mula pembangunan Sam Poo Kong adalah karena Laksamana Cheng Ho (Zheng He) memutuskan untuk singgah sebentar di Desa Simongan pada awal abad ke-15. Saat itu, dia sedang berlayar menyusuri Pantai Laut Jawa. Akan tetapi, karena ada awal kapalnya yang sakit, dia memutuskan untuk mendarat dengan menyusuri Sungai Kaligarang.

Sesampainya di Desa Simongan, dia menemukan gua batu dan menggunakannnya untuk bersemedi serta sembahyang. Dia juga memutuskan untuk menetap sementara sembari merawat awak kapalnya. Si pesakitan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ditemukan di sekitar gua batu itu.

Laksamana Cheng Ho sesungguhnya adalah seorang Muslim. Hal ini dibuktikan dengan tanda di bekas petilasan yang berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Akan tetapi, pengikutnya memutuskan untuk membuat kelenteng dan mengangkat Laksamana Cheng Ho sebagai dewa setelah dirinya meninggal dunia. Dalam kepercayaan Kong Hu Cu atau Tao, seseorang yang telah meninggal dianggap bisa memberikan pertolongan atau mengatasi kesukaran hidup pemeluknya.

Kelenteng Sam Poo Kong saat ini dijadikan tempat peringatan, tempat pemujaan, dan tempat berziarah. Di dalam gua batu, ada sebuah altar dan patung-patung Sam Poo Tay Djien.

Gua batu petilasan Laksamana Cheng Ho sempat tertutup longsor pada tahun 1700-an. Dengan bantuan warga, gua batu itu digali kembali sebagai penghormatan terhadap Sang Laksamana.

Selain bangunan inti berupa gua, di kompleks Sam Poo Kong ada beberapa tempat sembahyang sesuai yang dipuja. Kelenteng Thao Tee Kong diperuntukkan untuk memuja Dewa Bumi.

Ada pula tempat pemujaan Kyai Juru Mudi. Tempat itu merupakan makam juru mudi kapal Laksamana Cheng Ho.

Sementara itu, tempat pemujaan Kyai Jangkar berisi jangkar asli dari kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho. Jangkar itu dihiasi kain berwarna merah. Tempat ini juga digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping. Kegiatan mendoakan arwah Ho Ping sebagai simbol mendoakan arwah mereka yang tidak bersanak keluarga, yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Berikutnya, ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi. Tempat ini dulunya adalah tempat menyimpan senjata awak kapal Laks. Cheng Ho. Sedangkan tempat pemujaan Kyai dan Nyai Tumpeng dulunya adalah tempat penyimpanan bahan makanan.

Beberapa peristiwa tahunan diadakan di kompleks Keleteng Sam Poo Kong. Setiap bulan Agustus, ada festival mengenang kedatangan Laksmana Cheng Ho ke Semarang. Ada bazaar dan festival Barongsai yang menyemarakkan suasana. Peristiwa lain yang dibuat acara besar-besaran adalah perayaan Imlek dan kelahiran Laksamana Cheng Ho.

top