Berkunjung ke Taman Pintar Yogyakarta : Tujuan Wisata Edukasi Terkemuka di Jogja

Taman Pintar

Taman Pintar Yogyakarta dibangun di atas lahan bekas pusat perbelanjaan di Kota Jogja. Pembangunannya dimulai pada tahun 2004 dan selesai tahun 2008 saat diresmikan oleh Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Wahana Taman Pintar ini dibangun untuk melayani wisata edukasi anak-anak.

Taman Pintar menyediakan sarana pembelajaran sains yang dapat mendukung kurikulum pendidikan. Destinasi wisata edukatif ini ingin agar generasi muda semakin mencintai ilmu pengetahuan. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan kalangan akademisi lainnya, wahana-wahana di dalamnya bisa dinikmati semua kalangan.

Taman Pintar berlokasi di antara Gedung Agung, Taman Budaya, dan Benteng Vredeburg. Lokasi strategis ini memudahkan wisatawan untuk merancang suatu perjalanan wisata edukasi ke Jogja. Terlebih lagi, di daerah belakang Taman Pintar terdapat kawasan toko buku. Tempat-tempat umum ini menciptakan iklim akademis yang sehat bagi para pelajar dan mahasiswa.

Taman Pintar dibagi menjadi lima kategori. Masing-masing kategori diwakili oleh satu gedung. Kelima gedung disebut Gedung Oval, Gedung Kotak, Gedung Planetarium, Gedung Memorabilia, dan Gedung PAUD. Tarif dikenakan setiap pengunjung memasuki wahana di dalam gedung.

Gedung Oval berisi 10 wahana sains. Kesepuluh wahana tersebut adalah sbb.

  1. Zona Nuklir,
  2. Zona Tata Surya,
  3. Zona Cuaca, Iklim, dan Gempa,
  4. Zona Kehidupan Prasejarah,
  5. Zona Teknologi Informasi,
  6. Generator van De Graaf,
  7. Generator Pedal,
  8. Aquarium Air Tawar,
  9. Dome Area, dan
  10. Terowongan Ilusi.

Gedung Kotak berisi wahana-wahana gabungan antara sains dan teknologi berikut ini:

  1. Zona Air untuk Kebaikan Hidup,
  2. Zona Teknologi Otomotif Roda Dua,
  3. Zona Telekomunikasi,
  4. Zona Dino Adventure dan Teater 4D,
  5. Zona Standar Nasional Indonesia,
  6. Zona Microsoft,
  7. Zona Teknologi Otomotif Roda Dua,
  8. Zona Galeri Pusaka,
  9. Zona Indonesiaku,
  10. Zona Sahabat Pemberani,
  11. Zona Olahraga,
  12. Zona Tepi TV,
  13. Zona Sains,
  14. Zona Melek Gizi,
  15. Zona Sumber Daya Air,
  16. Hand of Science,
  17. Lorong Ilusi, dan

Di Gedung Planetarium, pengunjung bisa melihat benda-benda angkasa melalui proyektor digital. Proyektor tersebut mensimulasikan keadaan langit Kota Jogja ketika malam tiba. Pengunjung juga bisa menyaksikan film perjalanan manusia di Bulan.

Sementara itu, pengunjung bisa melihat foto-foto tokoh penting dan peristiwa bersejarah di Gedung Memorabilia. Semua foto disertai keterangan singkat sehingga pengunjung bisa ikut belajar sejarah. Wahana di Gedung Memorabilia dibagi menjadi tiga:

  1. Zona Sejarah Kesultanan Keraton Yogyakarta,
  2. Zona Kepustakaan Kepresidenan, dan
  3. Zona Tokoh Pendidikan.

Gedung terakhir, Gedung PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dikhususkan untuk memfasilitasi anak-anak usia 2-7 tahun. Gedung ini hanya boleh dimasuki pengunjung usia PAUD dan orang tua atau walinya. Zona PAUD dibagi menjadi dua; Zona Barat dan Zona Timur sbb.

  1. Zona PAUD Barat
    1. Wahana sains dan teknologi
    2. Wahana religi dan budaya
    3. Ruang profesi
    4. Perpustakaan
  2. Zona PAUD Timur
    1. Ruang flora dan fauna
    2. Ruang pertunjukan
    3. Ruang petualangan
    4. Computer kids and puzzle
top

Berkunjung ke Gua Kreo : Lokasi Kisah Kera dan Sunan Kalijaga

Gua Kreo

Gua Kreo adalah sebuah kawasan wisata alam di Kota Semarang. Destinasi wisata ini baru digalakkan promosinya pada tahun 2014. Terletak di tengah-tengah Waduk Jatibarang, gua yang terbentuk secara alami ini ternyata menyimpan kisah unik tentang Sunan Kalijaga dan kera gaib. Sebagai informasi, Waduk Jatibarang membendung Sungai Kreo dan berfungsi sebagai pencegah banjir dari luapan sungai.

Secara administratif, Gua Kreo berada di Keluarahan Kandiri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang. Dari pusat kota, lokasi wisata ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam.

Asal kata Kreo yang dipakai sebagai nama gua adalah “Mangreho”. Kata tersebut berarti “peliharalah”. Secara garis besar, kisah tentang Gua Kreo dimulai saat Sunan Kalijaga sedang mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Gua Kreo kemudian dijadikan petilasan oleh Sunan Kalijaga.

Saat berada di Gua Kreo, Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera gaib. Kera ekor panjang tersebut memilki warna bulu yang berbeda-beda; putih, merah, hitam, dan kuning. Warna bulu yang berbeda melambangkan kesucian (putih), keberanian (merah), tanah subur (hitam), dan angin (kuning).

Sunan Kalijaga diajak sekawanan kera itu untuk meminta petunjuk Yang Kuasa agar bisa menebang pohon untuk pondasi Masjid Agung Demak. Diketahui, sebelumnya, para sunan (Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Gunung Jati) tidak bisa menebang batang pohon untuk pondasi masjid.

Saat meminta petunjuk, Sunan Kalijaga diberikan petunjuk dari Yang Kuasa untuk menebang batang pohon dengan menggunakan selendang yang dibawanya. Saat mencoba menebang kembali sesuai petunjuk, ternyata, batang pohon berhasil ditebang. Batang dibelah menjadi dua dan dibawa ke tempat persemedian.

Kera-kera ingin ikut Sunan Kalijaga saat beliau hendak pulang ke masjid. Sunan tidak mengizinkan mereka untuk ikut. Namun, Sunan Kalijaga meminta kera-kera tersebut untuk menjaga gua. Maka dari itu, lahirlah istilah “Kreo” atau “jagalah”. Kera-kera yang dapat ditemukan di gua tersebut dianggap sebagai penunggu gua dan tidak boleh diganggu.

Sekitar 650 kera menghuni kawasan gua. Mereka terlihat tidak bertambah maupun berkurang. Warga mengaku belum pernah menemukan bangkai kera. Kawanan ini dibagi menjadi kubu atas dan kubu bawah.

Masing-masing kubu memiliki raja. Pengunjung dan warga tidak boleh menyentuh kera-kera ini karena bisa mengakibatkan raja mereka marah. Meskipun demikian, kera-kera ini sangat jinak.

Hingga kini, Gua Kreo masih sering digunakan untuk bersemedi. Setiap bulan Syawal, diadakan tradisi Sesaji Rewondo untuk menghormati kera-kera penghuni Gua Kreo. Warga membawa makanan yang khusus untuk kera. Manusia tidak boleh memakan makanan tersebut. Menurut penuturan warga, mereka yang nekat memakan sesaji untuk kera akan merasakan hal aneh pada diri mereka.

Gua Kreo berkedalaman tujuh meter. Saat memasuki gua, seringkali pengunjung merasakan hal yang ganjil, bahkan merinding. Tampaknya, kekuatan spiritual yang menyelubungi gua termasuk kuat.

Bagian atas gua biasa digunakan untuk selametan setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Meskipun cukup sulit menuju bagian atas, pemandangan indahnya tidak boleh dilewatkan. Jangan lewatkan berkunjung ke kota wisata solo. Anda bisa memakai sewa mobil solo. Solo memiliki banyak tempat wisata belanja, dan wisata budaya.

top

Berkunjung ke Alun-alun Kidul Jogja : Menjajal Ritual Masangin

Alun alun Kidul

Alun-alun Kidul (disingkat Alkid) Jogja adalah tempat masyarakat melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk acara-acara rakyat, rekreasi, jual beli, dan acara bertemu raja. Alun-alun memang biasanya dibagi menjadi dua sesuai fungsi dan letaknya. Alun-alun Lor yang terletak di sebelah utara Keraton adalah tempat berkumpulnya masyarakat berwatak ribut. Sedangkan alun-alun Kidul yang terletak di sebelah selatan Keraton dipergunakan untuk istirahat (sebagai palereman).

Alkid Jogja merupakan tempat empat aktivitas unik dilaksanakan. Selain di Jogja, belum tentu ada kegiatan seperti setonan, lomba memanah tradisional, Rampok Macan, dan Masangin.

Setonan atau acara ketangkasan berkuda biasa diadakan oleh para bangsawan dan prajurit dengan memanfaatkan luasnya tanah lapang Alkid. Sedangkan lomba memanah tradisional diadakan untuk menentukan jago-jago panahan selanjutnya. Kegiatan ini telah berlangsung dari jaman Kerajaan Mataram.

Berbeda dengan lomba panahan internasional yang dilakukan secara berdiri, jemparingan  dilakukan dengan duduk bersila. Nama jemparingan berasal dari kata jemparing yang berarti senjata panah pasukan khusus (panyutro). Pemanah harus bisa menembakkan anak panah ke sasaran 31 meter di depan pemanah sambil duduk bersila dengan posisi badan penyamping.

Lalu, ada kegiatan Rampok Macan. Kegiatan adu harimau ini terkenal pula di Kediri, Jawa Timur. Seluruh kerajaan di Jawa menyelenggarakan Rampok Macan pada masa jayanya. Populasi Harimau Jawa di tahun 1900-an menurun drastis diduga karena penyelenggaraan kegiatan ini.

Terakhir, ada Ritual Laku Masangin. Kegiatan ini berasal dari kisah sayembara raja mencari jodoh untuk putrinya. Kegiatan ‘Masuk di antara dua beringin’ ini menantang seseorang berjalan di antara ringin kurung dengan mata tertutup. Beringin kembar itu berada di tengah-tengah lapangan Alkid.

Menurut kepercayaan warga, orang yang berhasil melintasi dua beringin dengan tidak berbelok-belok akan mendapatkan keinginannya. Untuk sayembara sultan, orang yang berhasil melewati beringin itu dipercaya mempunyai hati yang bersih. Sayembara tersebut dimenangkan oleh Prabu Siliwangi yang berhasil melewati tengah-tengah ringin kurung hingga pendopo di selatan Alkid.

Pengunjung yang ingin mencoba ritual Masangin bisa menyewa penutup mata dari warga. Hal unik ini tentunya bisa menambah pengalaman para wisatawan. Berkunjung ke Alun-alun Kidul memang merupakan kegiatan yang tidak bisa begitu saja dilewatkan dari rencana perjalanan wisata ke Jogja.

top

Berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka : Bonbin Berprestasi

Gembira Loka

Kebun binatang Gembira Loka telah berdiri sejak tahun 1933. Sebelum menjadi kebun binatang untuk umum, Gembira Loka adalah kebun milik raja atau disebut Bonraja. Fungsi Bonraja adalah untuk memelihara binatang yang menjadi kelangenan raja.

Adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Jogja saat itu, yang ingin mewujudkan keinginan raja terdahulu untuk menjadikan Bonraja sebagai kebun binatang untuk umum. Sekarang ini, Gembira Loka berlokasi di Rejowinangun, Kotagede, Jogja.

Separuh dari total 20 hektare lahan Gembira Loka adalah hutan lindung. Berada di daerah aliran sungai Gajah Wong, koleksi binatang pertama-tama adalah macan tutul tangkapan warga setempat. Sekawanan macan tutul diketahui sering turun gunung jika habitatnya terkena awan panas Gunung Merapi. Kehadiran mereka mengganggu ketentraman warga sehingga perlu ditangkap.

Konferensi Komodo Dragon tahun 1998 di Thoiry, Paris, memberikan penghargaan kepada Gembira Loka atas kesuksesannya menjadi tempat penangkaran komodo dragon. Binatang endemik berjuluk ‘the world’s largest living lizard’ itu sukses ditangkarkan pada tahun 1992-1996 saat penghargaan tersebut diberikan.

Gembira Loka pernah bernasib kurang lebih sama dengan sebagian besar bonbin di Indonesia. Sebelum tahun 2006, bonbin ini berfasilitas seadanya sehingga satwa kurang terurus dan pengunjung cepat bosan. Namun, semuanya berubah ketika ada restrukturisasi manajemen. Sejak direnovasi akibat rusak parah karena gempa 2006, Gembira Loka kini salah satu bonbin terbaik di Indonesia.

Sekarang ini, Gembira Loka menghadirkan wisata edukasi menarik yang telah dihadirkan ke hadapan pengunjung sejak mulai masuk kompleks kebun binatang. Dengan konsep seperti museum, semua spesies di Gembira Loka dapat dilihat dengan jelas dan informasi yang diberikan tentang mereka detil. Mereka dikelompokkan ke dalam beberapa wahana yang disebut taman.

*) Taman Reptil dan Amfibi berisi katak, kadal, ular, iguana, biawak, kura-kura, dll, di etalase besar dengan fasilitas hidup memadai.

*) Taman Burung berisi 340 ekor burung dari berbagai spesies termasuk elang, pinguin jackas, flamingo, pelikan, dan cendrawasih.

*) Ada wahana foto bersama binatang ular, burung, iguana, yang semuanya telah jinak.

*) Atraksi Satwa Terampil menampilkan kakaktua, oranguta, berang-berang, dll. yang telah dididik untuk menghibur penonton.

Wahana lainnya:

*) Cafe Mayang Tirta : Kafe yang terletak di atas danau buatan. Acara musik sering di adakan di atas kafe ini.

*) wahana permainan dan hiburan : ATV, perahu engkol, kolam tangkap, sepeda air, dan Kapal Katamaran ‘Dugong’.

top

Berkunjung ke Sam Poo Kong : Persinggahan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah destinasi wisata reliji yang berada di Jalan Simongan, Kota Semarang. Bangunan ini sangat bercirikan gaya Tiongkok dari warna merah serta bentuknya.

Sesungguhnya, awal mula pembangunan Sam Poo Kong adalah karena Laksamana Cheng Ho (Zheng He) memutuskan untuk singgah sebentar di Desa Simongan pada awal abad ke-15. Saat itu, dia sedang berlayar menyusuri Pantai Laut Jawa. Akan tetapi, karena ada awal kapalnya yang sakit, dia memutuskan untuk mendarat dengan menyusuri Sungai Kaligarang.

Sesampainya di Desa Simongan, dia menemukan gua batu dan menggunakannnya untuk bersemedi serta sembahyang. Dia juga memutuskan untuk menetap sementara sembari merawat awak kapalnya. Si pesakitan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ditemukan di sekitar gua batu itu.

Laksamana Cheng Ho sesungguhnya adalah seorang Muslim. Hal ini dibuktikan dengan tanda di bekas petilasan yang berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Akan tetapi, pengikutnya memutuskan untuk membuat kelenteng dan mengangkat Laksamana Cheng Ho sebagai dewa setelah dirinya meninggal dunia. Dalam kepercayaan Kong Hu Cu atau Tao, seseorang yang telah meninggal dianggap bisa memberikan pertolongan atau mengatasi kesukaran hidup pemeluknya.

Kelenteng Sam Poo Kong saat ini dijadikan tempat peringatan, tempat pemujaan, dan tempat berziarah. Di dalam gua batu, ada sebuah altar dan patung-patung Sam Poo Tay Djien.

Gua batu petilasan Laksamana Cheng Ho sempat tertutup longsor pada tahun 1700-an. Dengan bantuan warga, gua batu itu digali kembali sebagai penghormatan terhadap Sang Laksamana.

Selain bangunan inti berupa gua, di kompleks Sam Poo Kong ada beberapa tempat sembahyang sesuai yang dipuja. Kelenteng Thao Tee Kong diperuntukkan untuk memuja Dewa Bumi.

Ada pula tempat pemujaan Kyai Juru Mudi. Tempat itu merupakan makam juru mudi kapal Laksamana Cheng Ho.

Sementara itu, tempat pemujaan Kyai Jangkar berisi jangkar asli dari kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho. Jangkar itu dihiasi kain berwarna merah. Tempat ini juga digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping. Kegiatan mendoakan arwah Ho Ping sebagai simbol mendoakan arwah mereka yang tidak bersanak keluarga, yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Berikutnya, ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi. Tempat ini dulunya adalah tempat menyimpan senjata awak kapal Laks. Cheng Ho. Sedangkan tempat pemujaan Kyai dan Nyai Tumpeng dulunya adalah tempat penyimpanan bahan makanan.

Beberapa peristiwa tahunan diadakan di kompleks Keleteng Sam Poo Kong. Setiap bulan Agustus, ada festival mengenang kedatangan Laksmana Cheng Ho ke Semarang. Ada bazaar dan festival Barongsai yang menyemarakkan suasana. Peristiwa lain yang dibuat acara besar-besaran adalah perayaan Imlek dan kelahiran Laksamana Cheng Ho.

top

Berkunjung ke Museum Ranggawarsita : Museum Terlengkap di Semarang

Museum Ronggowarsito

Museum Ranggawarsita terletak di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 1, Kalibanteng Kulon, Semarang. Museum ini dibangun pada tahun 1975 sebagai salah satu rintisan proyek rehabilitasi dan permuseuman Jawa Tengah. Museum ini diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan pada tanggal 5 Juli 1989.

Fungsi utama museum ini adalah untuk menyimpan dan memamerkan benda bersejarah asal Jawa Tengah (koleksi alam, sejarah, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan, dan wawasan nusantara). Hingga kini, museum memiliki 59.802 koleksi.

Asal nama museum ini adalah dari pujangga besar budaya Jawa, Radeng Ngabehi Ranggawarsita. Lahir 15 Maret 1802 di Surakarta, beliau dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa. Karyanya yang paling terkenal adalah Serat Kalatida yang memuat tentang Zaman Edan.

Museum Ranggawarsita menempati lahan seluas 1,8 hektare. Para pengunjung bisa melihat-lihat koleksi museum setiap hari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Sebanyak 59.802 koleksi yang dimiliki Museum Ranggawarsita dapat digolongkan ke dalam 10 kategori yaitu seni rupa, geologi, arkeologi, biologi, historika, numismatika, filologi, heraldika, teknologika, kramologika, dan ethnografika.

Koleksi-koleksi tersebut ditempatkan di empat gedung berbeda. Berikut uraiannya:

  1. Gedung A
    1. Lantai 1 : Wahana Geologi dan Geografi

Isi : beberapa jenis batuan dan batu meteorit yang jatuh di Mojogedang, Karanganyar tahun 1984.

  1. Lantai 2 : Wahana Paleontologi

Isi : fosil kayu kuno; tulang hewan; binatang langka yang diawetkan

  1. Gedung B
    1. Lantai 1 : Wahana peninggalan budaya

Isi : peninggalan peradaban Hindu-Buddha dan Islam

  1. Lantai 2 : Wahana keramik dan batik

Isi : keramik dari Tiongkok dan Eropa, batik berbagai motif dari berbagai wilayah di Indonesia, kerajinan gerabah

  1. Gedung C
    1. Lantai 1 : Wahana sejarah

Isi : Diorama perjuangan sejarah Indonesia, koleksi benda jaman perang

  1. Lantai 2 : Wahana teknologi, transportasi, dan industri

Isi : kerajinan rumahan, koleksi teknologi, koleksi transportasi

  1. Gedung D
    1. Lantai 1 : Wahana numismatika, heraldika, dll.

Isi : tentang pembangunan, tradisi nusantara, ruang intisari, dan hibah

  1. Lantai 2 : ruang kesenian

Isi : benda seni pergelaran, seni musik, dan seni pertunjukan

top

Berkunjung ke Kota Lama Semarang : Serasa Dilempar ke Masa Lalu

Kota Lama

Kota Semarang sebagai kota dekat pelabuhan tentunya menjadi tujuan awal penyebaran pengaruh pendatang. Tak heran bila pada masa penjajahan Belanda, banyak sudut kota yang terkena pengaruh kuat Belanda terutama di bidang arsitektur.

Sisa-sisa peninggalan bangunan Belanda salah satunya berada di kawasan Kota Lama. Dulu, kawasan ini adalah pusat ekonomi di Semarang dan Jawa Tengah. Kini, bangunan-bangunan yang sebagian besar telah ditinggalkan penghuninya itu menjadi objek wisata menarik di kalangan fotografer amatir maupun profesional. Terdapat sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri kokoh di lokasi ini.

Menurut sejarahnya, Kota Lama menjadi pusat perdagangan pada abad 19 hingga abad 20. Kawasan ini juga disebut Outstadt. Luasnya sekitar 31 hektare. Di sekeliling kawasan, dibangun benteng bernama Vijhoek untuk keamanan warga.

Jalan-jalan perhubungan di antara ketiga pintu gerbang dibangun untuk mempercepat jalur perhubungan. Jalan utamanya disebut Heeren Straat yang saat ini bernama Jalan Letjen Soeprapto. Jembatan Berok, dulu disebut De Zuider Por, adalah salah satu lokasi pintu benteng.

Kawasan Kota Lama ini tampak terpisah dari sekelilingnya karena dikelilingi benteng. Karena tampak seperti kota tersendiri, Kota Lama disebut juga “Little Netherland”. Beberapa spot publik ternyata berada di Kota Lama, seperti contohnya:

Stasiun Tawang. Stasiun induk di Kota Semarang ini adalah stasiun tua terbesar di Indonesia, bersama dengan Stasiun Kota di DKI Jakarta. Stasiun ini dibangun pada 16 Juni 1864 dan selesai pada 10 Februari 1870 oleh Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschsrij .

Gereja Blenduk. Gereja bernama resmi GPIB Immanuel ini beratap seperti kubah. Tengara paling ikonik di Kota Lama ini juga merupakan gereja kristen tertua di Jawa Tengah. Dinding gereja dicat putih bersih sementara kubahnya dicat merah kecoklatan.

Pabrik Rokok Praoe Lajar. Pabrik rokok indie ini ternyata masih beroperasi hingga sekarang meskipun masyarakat Indonesia semakin meninggalkan rokok jenis ini dan memilih rokok-rokok yang diproduksi korporasi industri rokok. Berada di Jalan Merak No. 15 Tanjungmas, segmentasi pasar Rokok Praoe Lajar adalah kalangan menengah ke bawah.

Persimpangan Kota Lama. Kawasan persimpangan di Kota Lama ini mempertemukan Jalan Garuda, Jalan Jenderal Soeprapto, dan Jalan Glatik. Bangunan tua di sini dibiarkan begitu saja tanpa renovasi. Bangunan tak berpenghuni ini menarik perhatian para pencinta vintage dan fotografi untuk mengabadikannya. Tak jarang ada beberapa becak yang parkir di sini. Mereka bisa dijadikan objek untuk melengkapi ke-vintage-an Kota Lama.

Polder Air Tawang. Kolam multifungsi di depan Stasiun Tawang ini mempunyai dua fungsi utama sebagai pengendali banjir dan tempat rekreasi. Kolam ini menjaga agar air limpahan dari luar kawasan tidak memasuki Kota Lama dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama.

top

Berkunjung ke Simpang Lima Semarang : Tempat Publik Favorit Warga Semarang

Simpang Lima

Simpang Lima Semarang adalah persimpangan lima ruas jalan utama di Kota Semarang. Kelimanya adalah Jalan Ahmad Yani, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Gadjah Mada, Jalan Pandanaran, dan Jalan Pahlawan. Lapangan Pancasila yang berada di tengah-tengah jalan ini menjadi tempat rekreasi atau penyelenggaraan upacara bendera.

Setiap Minggu pagi, kegiatan Car Free Day dilaksanakan di ruas-ruas jalan utama ini. Tak heran, pasar tumpah hadir memenuhi kebutuhan para pejalan kaki dan pesepeda saat CFD.

Alun-alun Simpang Lima adalah gagasan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Lapangan Pancasila yang selesai dibangun tahun 1969 menggantikan alun-alun terdahulu yang berada di Kauman. Kini, bekas alun-alun Semarang telah menjadi pusat wisata belanja.

Tengara dan ruang terbuka paling terkenal di Semarang ini adalah pusat perbelanjaan, pusat kuliner, pusat penyelenggaraan seni budaya, dan pusat akomodasi wisata.

Sebagai pusat kuliner, makanan yang dijajakn di Simpang Lima adalah makanan dari berbagai pelosok Nusantara. Simpang Lima sebagai pusat kuliner semakin menunjukkan tajinya saat hari menjelang malam. Trotoar digunakan untuk mendirikan warung tenda. Mereka menjajakan kuliner nasi pecel, nasi ayam, dan pelbagai olahan daging Kambing.

Selain kuliner, pasar suvenir murah di Simpang Lima juga menarik banyak pembeli. Suvenir murah yang ditawarkan sebagian besar adalah produk fashion atau kerajinan tangan.

Tata kota yang dicanangkan Pemerintah Kota Semarang sejak tahun 2011 memang telhah membawa warna baru di Simpang Lima. Trotoar dipercantik, diberi fasilitas umum lengkap seperti tempat sampah dan lampu kota, menjadikannya spot wisata selfie yang cukup menarik. Mereka terutama memilih spot tulisan SIMPANG LIMA yang diterangi lampu.

Pelbagai kendaraan seperti otoped, in line skate, skateboard, juga ada yang disewakan. Jika tidak ingin mengendarai sendiri, pengunjung bisa memilih naik becak hias dan sepeda tandem hias. Rata-rata sewanya Rp35.000,00 sekali putaran untuk becak hias dan Rp25.000,00 untuk 30 menit bersepeda tandem.

top

Berkunjung ke Jalan Pahlawan Semarang : Ruang Publik dan Pusat Jajanan Kaki Lima Semarang

Simpang Lima Semarang

Simpang Lima Semarang adalah tengara paling terkenal se-Kota Semarang. Di tengah-tengah persimpangan tersebut terdapat Lapangan Pancasila yang biasanya digunakan untuk apel dan pesta rakyat.

Simpang Lima Semarang adalah pertemuan antara Jalan Ahmad Yani, Jalan Gadjah Mada, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Pandanaran, dan Jalan Pahlawan. Kali ini, kami akan membahas spot-spot wisata menarik di Jalan Pahlawan.

Ruas jalan utama di Kota Semarang ini adalah ruang publik favorit warga di akhir pekan. Di sepanjang ruas jalan ini, setiap Sabtu malam dan Minggu pagi, warga Semarang tumpah ruah berekreasi.

Ruas jalan terbesar di Semarang ini memang cocok untuk rekreasi keluarga dengan anak kecil. Pemerintah Kota Semarang serius menata ruas jalan untuk pariwisata sejak 2011. Trotoar dirapikan, diberi fasilitas tempat sampah dan lampu kota.

Jalan Pahlawan adalah  lokasi kantor gubernur dan DPRD Jawa Tengah, BPS Jateng, Polda Jateng, Kejaksaan Tinggi Jateng, dan Perum Perhutani. Di hari kerja, kawasan yang dikenal sebagai daerah gubernuran ini menjadi tempat para pegawai negeri berkarya.

Jalan Pahlawan mulai ramai orang berekreasi sekitar pukul 18.00 WIB. Adanya banyak pedagang kaki lima semakin menambah daya tarik pusat kota ini. Pecel, nasi rames, nasi lengko, kupat glabed khas Tegal, dan soto adalah beberapa menu kuliner yang dijajakan penjual di sepanjang jalan.

Yang cukup menarik, ada penjual jamu gaul tanpa rasa pahit. Jamu ini memang dibuat untuk orang-orang yang tidak doyan rasa pahit namun ingin mendapatkan khasiat dari jamu. Minuman tradisional jamu rasa buah pun jadi inovasi penting di sini. Rasa-rasa seperti coklat, pisang, teh hijau, dan strawberi yang berpadu dengan jamu itu dijual oleh Reina Herbal Drink Cafe.

Komunitas in line skate, sepeda onthel, dan lainnya sering berkumpul di sepanjang Jalan Pahlawan. Mereka kerap menunjukkan kebolehan mereka di ruas jalan ini.

Kegiatan sosial pun sering diadakan. Ada kegiatan pengumpulan dana sosial dengan cara menjajakan makanan, mengamen, dan menjual baju bekas (ngawul). Uang yang didapat disumbangkan, digunakan untuk bakti sosial, atau membiayai kegiatan kampus.

Setiap Minggu pagi pukul 05.00-09.00 WIB, Jalan Pahlawan adalah salah satu lokasi Car Free Day. Kendaraan bermotor dilarang melintas pada jam-jam ini. Maka dari itu, warga bisa memanfaatkan jalan raya yang lengang untuk bermain, bersosialisasi, atau ngabuburit.

Persewaan otoped, in line skate, skateboard, sepeda, dan sarana transportasi nonmotor lainnya bisa dimanfaatkan untuk berolahraga sembari bermain. Pengunjung juga bisa jalan-jalan naik odong-odong, dokar, atau mobil remote.

top

Rekomendasi Wisata Budaya di Semarang

Sam Poo Kong

Semarang bisa dibilang sebagai kota metropolitan yang masih jauh lebih lengang dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa. Kota ini banyak menyimpan peninggalan sejarah karena merupakan salah satu pelabuhan utama tujuan para pendatang. Otomatis, Semarang menjadi salah satu yang terkena budaya luar. Akulturasi budaya di Semarang dianggap sebagai salah satu keunggulan tersendiri kota ini dibandingkan dengan kota lainnya.

Berikut ini rekomendasi wisata budaya di Semarang:

  1. Lawang Sewu

Peninggalan Belanda yang dibangun pada 27 Februari 1904 ini kini lebih terkenal sebagai tempat uji nyali. Memang, arsitektur bangunan bekas kantor perusahaan kereta api Belanda itu memiliki aura mistis sangat kuat.

Gaya arsitektur Belanda sangat terlihat dari bentuk pintu dan jendela. Karena bangunan ini luas sekali, terdapat banyak pintu sebagai akses masuk beragam ruang di dalamnya. Karena itulah, bangunan ini dijuluki Lawang Sewu (Pintu Seribu). Di balik seramnya Lawang Sewu, estetika bangunan maupun lingkungan sekitarnya membuat fotografer senang mengabadikannya.

  1. Simpang Lima Semarang

Simpang Lima adalah pertemuan dari lima ruas jalan paling utama di Kota Semarang. Simpang Lima adalah pusat kuliner, pusat perbelanjaan, pusat akomodasi wisata, dan pusat penyelenggaraan seni budaya sejak tahun 1969.

Di tengah-tengah pertemuan antara lima ruas jalan itu adalah Lapangan Pancasila. Lapangan ini adalah pusat penyelengaraan upacara pada hari besar atau sebagai tempat menyelenggarakan pesta rakyat.

Segala macam jajanan kaki lima khas Semarang, pasar murah, persewaan sarana transportasi, ada di lokasi ini. Tempat ini memang ruang publik yang cocok dikunjungi siapa saja dari berbagai kalangan.

  1. Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Sam Poo Kong adalah sebuah tempat persinggahan Laksamanan Cheng Ho pada awal abad ke-15. Meskipun Laks. Cheng Ho adalah seorang Muslim, awak kapal dan pengikut Laks. Cheng Ho yang beraliran kepercayaan Kong Hu Cu mendirikan kelenteng ini untuk menghormati beliau. Laks. Cheng Ho sudah dianggap sebagai dewa yang dapat menunjukkan solusi dari pelbagai masalah hidup mereka.

Kompleks Kelenteng Cheng Ho terdiri dari beberapa kuil dan gua batu petilasan Sang Laksamana. Setiap kuil mempunyai fungsi masing-masing. Adapun gua batu petilasan itu sempat terkubur pada tahun 1700-an. Gua tersebut digali kembali sehingga kini bisa dikunjungi dengan sewa mobil semarang. Jika anda ingin berkunjung ke kota solo segera lakukan pemesanan.

top