Berkunjung ke Sam Poo Kong : Persinggahan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah destinasi wisata reliji yang berada di Jalan Simongan, Kota Semarang. Bangunan ini sangat bercirikan gaya Tiongkok dari warna merah serta bentuknya.

Sesungguhnya, awal mula pembangunan Sam Poo Kong adalah karena Laksamana Cheng Ho (Zheng He) memutuskan untuk singgah sebentar di Desa Simongan pada awal abad ke-15. Saat itu, dia sedang berlayar menyusuri Pantai Laut Jawa. Akan tetapi, karena ada awal kapalnya yang sakit, dia memutuskan untuk mendarat dengan menyusuri Sungai Kaligarang.

Sesampainya di Desa Simongan, dia menemukan gua batu dan menggunakannnya untuk bersemedi serta sembahyang. Dia juga memutuskan untuk menetap sementara sembari merawat awak kapalnya. Si pesakitan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ditemukan di sekitar gua batu itu.

Laksamana Cheng Ho sesungguhnya adalah seorang Muslim. Hal ini dibuktikan dengan tanda di bekas petilasan yang berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Akan tetapi, pengikutnya memutuskan untuk membuat kelenteng dan mengangkat Laksamana Cheng Ho sebagai dewa setelah dirinya meninggal dunia. Dalam kepercayaan Kong Hu Cu atau Tao, seseorang yang telah meninggal dianggap bisa memberikan pertolongan atau mengatasi kesukaran hidup pemeluknya.

Kelenteng Sam Poo Kong saat ini dijadikan tempat peringatan, tempat pemujaan, dan tempat berziarah. Di dalam gua batu, ada sebuah altar dan patung-patung Sam Poo Tay Djien.

Gua batu petilasan Laksamana Cheng Ho sempat tertutup longsor pada tahun 1700-an. Dengan bantuan warga, gua batu itu digali kembali sebagai penghormatan terhadap Sang Laksamana.

Selain bangunan inti berupa gua, di kompleks Sam Poo Kong ada beberapa tempat sembahyang sesuai yang dipuja. Kelenteng Thao Tee Kong diperuntukkan untuk memuja Dewa Bumi.

Ada pula tempat pemujaan Kyai Juru Mudi. Tempat itu merupakan makam juru mudi kapal Laksamana Cheng Ho.

Sementara itu, tempat pemujaan Kyai Jangkar berisi jangkar asli dari kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho. Jangkar itu dihiasi kain berwarna merah. Tempat ini juga digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping. Kegiatan mendoakan arwah Ho Ping sebagai simbol mendoakan arwah mereka yang tidak bersanak keluarga, yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Berikutnya, ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi. Tempat ini dulunya adalah tempat menyimpan senjata awak kapal Laks. Cheng Ho. Sedangkan tempat pemujaan Kyai dan Nyai Tumpeng dulunya adalah tempat penyimpanan bahan makanan.

Beberapa peristiwa tahunan diadakan di kompleks Keleteng Sam Poo Kong. Setiap bulan Agustus, ada festival mengenang kedatangan Laksmana Cheng Ho ke Semarang. Ada bazaar dan festival Barongsai yang menyemarakkan suasana. Peristiwa lain yang dibuat acara besar-besaran adalah perayaan Imlek dan kelahiran Laksamana Cheng Ho.

No comments yet

leave a comment

*

*

*