Berkunjung ke Gua Kreo : Lokasi Kisah Kera dan Sunan Kalijaga

Gua Kreo

Gua Kreo

Gua Kreo adalah sebuah kawasan wisata alam di Kota Semarang. Destinasi wisata ini baru digalakkan promosinya pada tahun 2014. Terletak di tengah-tengah Waduk Jatibarang, gua yang terbentuk secara alami ini ternyata menyimpan kisah unik tentang Sunan Kalijaga dan kera gaib. Sebagai informasi, Waduk Jatibarang membendung Sungai Kreo dan berfungsi sebagai pencegah banjir dari luapan sungai.

Secara administratif, Gua Kreo berada di Keluarahan Kandiri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang. Dari pusat kota, lokasi wisata ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam.

Asal kata Kreo yang dipakai sebagai nama gua adalah “Mangreho”. Kata tersebut berarti “peliharalah”. Secara garis besar, kisah tentang Gua Kreo dimulai saat Sunan Kalijaga sedang mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Gua Kreo kemudian dijadikan petilasan oleh Sunan Kalijaga.

Saat berada di Gua Kreo, Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera gaib. Kera ekor panjang tersebut memilki warna bulu yang berbeda-beda; putih, merah, hitam, dan kuning. Warna bulu yang berbeda melambangkan kesucian (putih), keberanian (merah), tanah subur (hitam), dan angin (kuning).

Sunan Kalijaga diajak sekawanan kera itu untuk meminta petunjuk Yang Kuasa agar bisa menebang pohon untuk pondasi Masjid Agung Demak. Diketahui, sebelumnya, para sunan (Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Gunung Jati) tidak bisa menebang batang pohon untuk pondasi masjid.

Saat meminta petunjuk, Sunan Kalijaga diberikan petunjuk dari Yang Kuasa untuk menebang batang pohon dengan menggunakan selendang yang dibawanya. Saat mencoba menebang kembali sesuai petunjuk, ternyata, batang pohon berhasil ditebang. Batang dibelah menjadi dua dan dibawa ke tempat persemedian.

Kera-kera ingin ikut Sunan Kalijaga saat beliau hendak pulang ke masjid. Sunan tidak mengizinkan mereka untuk ikut. Namun, Sunan Kalijaga meminta kera-kera tersebut untuk menjaga gua. Maka dari itu, lahirlah istilah “Kreo” atau “jagalah”. Kera-kera yang dapat ditemukan di gua tersebut dianggap sebagai penunggu gua dan tidak boleh diganggu.

Sekitar 650 kera menghuni kawasan gua. Mereka terlihat tidak bertambah maupun berkurang. Warga mengaku belum pernah menemukan bangkai kera. Kawanan ini dibagi menjadi kubu atas dan kubu bawah.

Masing-masing kubu memiliki raja. Pengunjung dan warga tidak boleh menyentuh kera-kera ini karena bisa mengakibatkan raja mereka marah. Meskipun demikian, kera-kera ini sangat jinak.

Hingga kini, Gua Kreo masih sering digunakan untuk bersemedi. Setiap bulan Syawal, diadakan tradisi Sesaji Rewondo untuk menghormati kera-kera penghuni Gua Kreo. Warga membawa makanan yang khusus untuk kera. Manusia tidak boleh memakan makanan tersebut. Menurut penuturan warga, mereka yang nekat memakan sesaji untuk kera akan merasakan hal aneh pada diri mereka.

Gua Kreo berkedalaman tujuh meter. Saat memasuki gua, seringkali pengunjung merasakan hal yang ganjil, bahkan merinding. Tampaknya, kekuatan spiritual yang menyelubungi gua termasuk kuat.

Bagian atas gua biasa digunakan untuk selametan setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Meskipun cukup sulit menuju bagian atas, pemandangan indahnya tidak boleh dilewatkan. Jangan lewatkan berkunjung ke kota wisata solo. Anda bisa memakai sewa mobil solo. Solo memiliki banyak tempat wisata belanja, dan wisata budaya.

No comments yet

leave a comment

*

*

*