Berkunjung ke Pecinan Semarang : Sembahyang di 1001 Kelenteng dan Mengisi Perut di Waroeng Semawis

Semawis

Kawasan Pecinan (Chinatown) lazim ditemui di berbagai negara. Rakyat Tiongkok yang sudah menyebar ke seluruh muka bumi ini memang selalu memberikan warna tersendiri di sebuah kota.

Pecinan Semarang terkenal dengan banyak kelentengnya dan acara waroeng Semawis. Dua hal ini tidak bisa ditemukan di tempat selain Kota Semarang.

Di kawasan Pecinan, ada 11 kelenteng yang memiliki sejarah panjang. Kelenteng Siu Hok Bio yang beralamatkan di Jalan Wotgandul Timur merupakan kelenteng tertua di kawasan Pecinan Semarang. Warga daerah Pecinan Lor mendirikan keleteng ini di tahun 1753. Ada ornamen nisbiah kuno berupa cincin pegangan pintu dan ukiran di ambang atas pintu kelenteng.

Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok berkedudukan sebagai kelenteng induk bagi seluruh kelenteng di Semarang. Kelenteng ini menyiratkan simbol heroisme etnis Tiongkok di Semarang.

Kawasan Pecinan Semarang memiliki kelenteng terbesar bernama Keleteng Wie Wie Kiong. Terletak di Jalan Sebandaran I, beberapa sudut keleteng terinspirasi arsitektur gaya Eropa. Sementara itu, kelenteng See Hoo Kiong yang juga berada di jalan yang sama diperuntukkan kepada pemuja Dewa Pedang.

Kelenteng Tek Hay Bio di Jalan Gang Pinggir didominasi ornamen unsur laut. “Tek Hay Bio” memang bisa diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera. Nama-nama kelenteng lainnya di Pecinan Semarang adalah Kelenteng Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, dan Grajen.

Selain banyaknya kelenteng, ada satu kegiatan di Pecinan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kegiatan itu adalah Semawis; menjual kuliner tradisional dari berbagai daerah, khususnya Jawa-China, di Gang Waroeng di Pecinan Semarang.

Semawis digagas oleh masyarakat Tionghoa di Semarang, Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis). Kegiatan berjualan kuliner ini mempunyai maksud untuk mengangkat budaya Pecinan. Selain Semawis dapat diartikan sebagai “Semarang untuk Pariwisata”, dalam bahasa Jawa, semawis juga berarti “tersedia”.

Semawis diadakan pada akhir pekan, Jumat hingga Minggu malam, mulai pukul 18.00 hingga 23.00 WIB. Menu-menu yang disajikan biasanya adalah bubur kampiun (bubur sumsum lengkap), sate, gudeg koyor khas Semarang, Nasi Campur khas Tionghoa, ayam goreng sambel mangga, nasi ayam, kwetiau, siomay, lumpia, bakmi, dan lunpia. Karena ada menu nonhalal di event mingguan kuliner ini, pengunjung Muslim disarankan untuk bertanya dahulu mengenai kehalalan menu.

No comments yet

leave a comment

*

*

*